Marketers,
Cukup mengejutkan berita mengenai meninggalnya Anita roddick kemarin yang walaupun bisnis yang dibangunnya , The Body shop, sudah di jual ke L'oreal, tapi tetap aja saya ngerasa kehilangan salah satu icon marketing kelas dunia...buat saya pribadi, walaupun cuma sempet ngobrol 3 menit waktu kunjungan dia di Jakarta, tetap aja ada rasa kehilangan..
Mengutip kata orang " when today we saw lots of companies talk about social responsibility, she has lived with it decades ago...
Menarik untuk di kaji. Kira kira ke depannya, bagaimana masa depan dari brand "The body shop" itu sendiri. Walaupun company itu sudah pindah tangan ke L'oreal yang nota bene company gede juga, cuma image Body Shop sudah terlanjur nempel ama foundernya.. .
Apakah L'oreal bisa mempertahan persepsi brand valuedari The Body shop yang lekat dengan environment, philantropis, against animal testing de el el...kok rasanya susah bgt deh "spirit of Anita Roddick" bisa di copy oleh L'oreal yg terlanjur corporate banget...sama susahnya ngebayangin Virgin tanpa Branson..atau Ayam Suharti tanpa suharti ? lho :P
Any comments ?
Pasar Becek
5 comments:
Apakah sepeninggal Anita Roddick brand value dari Body Shop bisa dipertahankan? Menurut saya jawabannya: Tentu bisa, Why Not? :)
Sebagai contoh McDonald itu dulu identik dengan Ray Crooc, sekarang walaupun sudah bukan ditangani oleh beliau, bisa dikatakan bahwa brand valuenya tetap berkembang. Contoh di Indonesia, kita bisa liat pada Aqua, walaupun ditinggal Pak Tirto, dibawah manajemen Danone (yang notabene adalah perusahaan besar sekelas L'oreal) brand
valuenya terus berkembang.
Inilah bedanya perusahaan kelas dunia dengan kelas "pasar becek" :) (maaf bukan bermaksud mengecilkan makna dari pasar becek). Walaupun ditinggal figur foundernya; akan tetapi tangible asset dan intangible assetsnya (seperti organization system, culture, human resources) sudah terbentuk secara solid mendukung core capabilities company itu. Jadi kepergian figur tertentu tidak berpengaruh banyak terhadap core capabilities company itu untuk terus mengembangkan assetsnya,satu diantaranya adalah brand. Inilah yang harus dijadikan pelajaran bagi banyak perusahaan di Indonesia sekarang, supaya bisa maju di masa depan.
Cheers
Martin
Iya juga sih, kadang sosok atau figur seseorang untuk sebagian masyarakat sangat mempengaruhi brand value company. Tidak bisa tidak, tidak bisa juga dipungkiri, kehadiran sosok yang kompeten dibidangnya sangat mempengaruhi kepercayaan terhadap suatu perusahaan secara keseluruhan.
Namun apakah selamanya kita akan bergantung pada ”hanya” figur seseorang saja...? Jawab nya tentu TIDAK....?
Mungkin memang harus membuat sistem yang tangguh untuk bisa terus mempertahakankan tata nilai yang berkembang dalam perusahaan.
Belajar dari pengalaman, membuat sistem yang handal, bisa menjadi antisipasi dalam menghadapi setiap PERUBAHAN... ..Tidak ada ABADI dan KEKAL, kecuali PERUBAHAN itu sendiri..... .
Best regards,
Muslim
Yup !! tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kepergian Anita Roddick akan meninggalkan banyak pertanyaan besar bagi Body Shop serta bisnis lain yang berkecimpung dalam kepedulian environment development. Namun jika ditanyakan secara general kepada para pembeli Body Shop secara umum, apakah mereka mengetahui siapa Anita Roddick ? serta apa perannya bagi pengembangan Body Shop ? nampaknya tidak banyak yang mempunyai insight seperti ini. Tetapi jika ditanyakan value dari Body Shop kepada mereka ? care terhadap lingkungan, pembangunan berkelanjutan dan issue lain yang secara langsung terkait dengan Body Shop. Nah ini adalah warisan terpenting yang dapat diberikan oleh Anita Roddick kepada komunitas global akan kesadaran berperilaku dalam lingkungan. Ternyata, value yang diberikan oleh Anita Roddick kepada Body Shop mengalir dengan baik sampai kepada konsumen. Pertanyaan besar kepada Body Shop adalah bagaimana dengan konsistensi value serta integrasi komunikasi terhadap target segmen yang ada ? yang akan tumbuh ? Loreal nampaknya mempunyai tugas berat dalam menjawab pertanyaan ini, apalagi disaat para organisasi lain yang sudah menggunakan isu environment dan become regular value dalam berkompetisi.
However, still we own to Anita Roddick, to provide better living not only to human but others...cause we depend each other...
Regards,
Kafka
Alumni Unpad
Kalau kita ambil kasus yang sama, dimana Philip Morris mengambil alih Sampoerna, rasanya L'oriel pasti memilih untuk mengambil valuenya Bodyshop ketimbang sebaliknya. Toh, mereka beli Bodyshop karena brand value-nya juga....
Salam,
Silih
Salam marketer,
Saya salah satu pengguna body shop. Hehehe...
Btw, sebetulnya keputusan saya membeli tidak dipengaruhi oleh value hidup Anita Roddick ya. Alasan saya beli adalah karena saya suka dengan produk perfume nya dan harganya lumayan terjangkau. CMIIW, di Indonesia, saya belum melihat perwujudan dari value hidup Anita Roddick dalam kampanye dari Body Shop Indonesia. Saya ga tau
nich di negara2 lainnya. Di negara asalnya, memang benar value hidup dari Anita Roddick begitu mempengaruhi Body Shop dan aktifitas2nya. Di sinilah, tidak heran figur dari seorang Anita Roddick begitu identik dengan brand-nya.
Salah satu bentuk perwujudan dari value hidupnya --> mencintai lingkungan hidup,
seorang Anita Roddick semasa hidupnya sering mengunjungi banyak negara yang "terlupakan" dan menemukan sejumlah bahan natural untuk produknya. Saya tidak berani memberikan judgment apakah R&D dari L'Oreal akan mau melakukan hal yang sama, walaupun dalam bentuk yang lain. Tapi, saya rasa mereka bisa. Di sisi lain, dalam beberapa kesempatan berbicara, baik dalam diskusi, seminar, maupun dalam aktifitas apapun, Anita Roddick men-sharingkan value hidupnya tersebut.
Saya juga tidak berani memberikan judgment apakah PR dari L'Oreal akan melakukan hal yang sama --> publicity mengenai lingkungan hidup. Yang jelas, membandingkan antara keduanya. Yang satu adalah individual dengan konsistensi visi hidup, tekad, komitmen, dan share of heart. Yang satu lagi adalah seorang staff/manager/ direktur di
bidang PR, spokeperson ataupun agency dari suatu perusahaan --> yang mungkin saja HANYA menjelaskan tugas. Kemungkinan besar tidak akan sama, walaupun tentunya perusahaan ybs punya visi hidup, tekad, dan komitmen yang sama. Tetapi, share of heart dan sense of ownership itu belum tentu dimiliki oleh staff/manager/ direktur di bidang PR, spokeperson ataupun agency yang diminta melakukannya.
Hehehe....terakhir dari sisi intisari value hidup: mencintai lingkungan hidup, well ini definisinya kan ga sama ya antara satu orang dengan yang lainnya, antara si owner dengan layer-layer di bawahnya, apalagi antara satu perusahaan dengan yang lainnya.
So...apakah L'Oreal bisa melanjutkan Perwujudan alias Bukti Nyata dari value hidup Body Shop/Anita Roddick? Atau masih sekadar slogan?
Saya tidak berani judgment, tetapi saya yakin seyakinnya. L'Oreal mestinya bisa melanjutkan core identity dari Body Shop. Otherwise, well...mungkin memang masih bisa survive karena yang beli adalah org2 seperti saya. Product product product, itulah alasan membeli-nya. Suatu alasan yang mudah terpatahkan.
Saya rasa inilah tantangan dari banyak perusahaan yang memang core identity-nya masih dari satu orang atau beberapa orang sebagai figur utama. Walaupun, memang mereka bilang sich sudah menyiapkan generasi di bawahnya. Hehehe...selama figur utama itu masih ada sich BELUM TER-UJI namanya. Sistem lain sering kali sudah dipersiapkan, bahkan sampai kualitas pun bisa dibuat sama, tapi value hidup yang membentuk core identity suatu brand seringkali justru digampangkan. Hehehe...BELUM TERUJI tuch...Apalagi kalau si figur utama punya sekian banyak "penerus" dari sanak saudara. Akur aja udah untung, apalagi punya 1 visi?
Gimana dengan perusahaan keluarga bergerak di bidang servis ya, seperti perusahaan konsultan, restoran tertentu, etc? Wah...wah wah...Udah teruji belom? Buktinya --> kuantitatif dunk, jangan kira2 aje "sudah teruji"...
Salam marketer,
Handoko Gani, MST (Marketer Sok Tahu)
Post a Comment