Wednesday, September 26, 2007

Marketing Perbankan Syariah

Saat ini pemerintah dan BI sedang mendorong tumbuhnya bisnis perbankan syariah. Sudah ada banyak bank yang menawarkan berbagai produk, entah itu berupa funding (tabungan, giro, deposito, dll) maupun lending (kredit konsumen, kredit modal, dll) yang berbasis syariah. Bahkan sudah ada kartu kredit berbasis syariah ber merek Dirham yang dikeluarkan oleh Danamon Syariah.

Potensi pasar yang besar dengan jumlah penduduk mayoritas muslim merupakan daya tarik utama. Namun menariknya ternyata konsumen produk perbankan syariah bukan hanya orang muslim, namun ternyata juga masyarakat non-muslim pun memanfaatkan produk-produk syariah perbankan karena ternyata ada beberapa keuntungan produk syariah dibanding non-syariah. Bahkan salah satu bank syariah menyatakan bahwa ketika mereka membuka cabang di Menado, justru cabang tersebut mencapai BEP tercepat.

Nah, mungkin teman-teman bisa sharing ide tentang bagaimana sebaiknya strategi marketing perbankan syariah ini ? Positioning seperti apa yang sebaiknya ditawarkan ? Bagaimana promosi yang bagus buat produk-produk mereka ?

salam hangat

Andrias ekoyuono

Unilever Indonesia Nomer Satu Se-ASIA

(sumber : http://strategimana jemen.net - visit this blog for ideas on business strategy)

Ada yang menarik dari laporan majalah Business Week edisi Asia yang diterbitkan beberapa waktu lalu. Melalui survei yang bertajuk The Asia BusinessWeek 50, majalah yang memiliki reputasi bagus itu mencoba memilih barisan perusahaan yang memiliki kinerja yang kinclong dari ratusan perusahaan yang asli Asia ataupun korporasi multi-nasional yang beroperasi di Asia. Kriteria utama yang mereka gunakan sebagai
dasar pemilihan adalah kinerja keuangan dan pertumbuhan bisnis selama tiga tahun terakhir.

Hasilnya cukup mengejutkan, namun sekaligus cukup asyik untuk didengar: mereka menobatkan Unilever Indonesia sebagai perusahaan terbaik nomer satu se Asia. Sebuah hasil yang sungguh layak diapresiasi dan kita beri tepuk tangan. Sebuah hasil yang juga
menunjukkan satu bukti bahwa roda bisnis di negeri ini ternyata terus melaju dan menggeliat kencang.

Pada sisi lain, prestasi yang diraih oleh Unilever Indonesia ini kian menegaskan keberhasilan mereka dalam menancapkan jejak bisnisnya di tanah air sebuah ikhtiar yang telah dilakukan sejak tahun 1933. Dalam kenyataannya, produsen asal Belanda ini makin melaju dengan beragam produk dan serangkaian strategi pemasaran yang masif. Kamar mandi kita mungkin kini telah sesak dengan aneka produk yang mereka ciptakan. Juga baju kita setiap hari mungkin dicuci dengan deterjen produksi mereka. Dan setiap malam, mereka terus hadir berdendang dan menyapa kita melalui tayangan iklan yang rancak di layar televisi.


Segenap usaha itu kemudian membikin para petinggi Unilever Indonesia bisa memancarkan senyum a la senyum Pepsodent : dalam kurun 2006 total penjualan sebanyak Rp 11 trilyun mengucur deras ke brankas, dan profit bersih sebesar Rp 1,7 trilyun berhasil direngkuh. Ah, sebuah hasil yang sungguh sedap, sesedap teh Sariwangi.

Namun dibalik kinerja keuangan yang kinclong itu, ada dua pelajaran manajerial yang ingin kita explorasi disini. Yang pertama, melalui pengalaman pemasarannya yang amat ekstensif, kita mungkin mesti harus menyebut Unilever Indonesia sebagai The Best Marketing School in Town. Sebuah tempat dimana proses pengembangan SDM dalam bidang pemasaran menemukan bentuknya yang paling ideal.

Dalam konteks ini, kita melihat mereka mampu mendesain skema pengembangan karir yang sistematis dan terencana terhadap para manajer mereka baik yang senior maupun junior. Didukung oleh portfolio produk yang luas, mereka lantas cukup leluasa untuk melakukan rotasi diantara manajernya untuk berpindah dari satu produk (brand) ke lini
produk lainnya. Dan disinilah mereka kemudian mampu menempa para manajer mereka secara optimal melalui pergerakan karir yang dinamis baik secara vertikal, diagonal dan horizontal. Yang lebih elok, mereka tampaknya juga mampu menciptakan proses mentoring secara natural dimana para manajer yang telah senior secara konstan terus menerus melakukan transfer pengetahuan kepada para juniornya.

Pelajaran kedua yang bisa kita petik adalah ini : Unilever Indonesia memiliki komitmen yang kuat dan bervisi jauh kedepan dalam mendidik dan mengembangkan barisan sumber daya manusianya. Dalam sebuah kesempatan, Direktur SDM Unilever Indonesia Josef Bataona menyebutkan, mayoritas jajaran direksi mereka sekarang adalah para peserta program management trainee (MT) yang telah mereka tempuh puluhan tahun sebelumnya. Program MT Unilever Indonesia memang terkenal bagus, dan pernyataan diatas kian menegaskan reputasi itu. Artinya, mereka benar-benar menjalankan program MT sesuai dengan tujuan dasarnya : yakni mencetak dan menyiapkan para future leaders secara sistematis dan terencana.

Ke depan Unilever Indonesia pasti akan terus menemui persaingan bisnis yang kian keras dan melelahkan. Namun melalui serangkaian proses pengembangan SDM yang cerdas dan brilian, mereka barangkali akan menghadapi persaingan bisnis itu dengan penuh percaya diri, sambil serempak berteriak lantang : siapa takuut !!

Salam,
Yodhia

Wednesday, September 12, 2007

Meninggalnya anita Roddick and the future of The Body Shop

Marketers,

Cukup mengejutkan berita mengenai meninggalnya Anita roddick kemarin yang walaupun bisnis yang dibangunnya , The Body shop, sudah di jual ke L'oreal, tapi tetap aja saya ngerasa kehilangan salah satu icon marketing kelas dunia...buat saya pribadi, walaupun cuma sempet ngobrol 3 menit waktu kunjungan dia di Jakarta, tetap aja ada rasa kehilangan..

Mengutip kata orang " when today we saw lots of companies talk about social responsibility, she has lived with it decades ago...

Menarik untuk di kaji. Kira kira ke depannya, bagaimana masa depan dari brand "The body shop" itu sendiri. Walaupun company itu sudah pindah tangan ke L'oreal yang nota bene company gede juga, cuma image Body Shop sudah terlanjur nempel ama foundernya.. .

Apakah L'oreal bisa mempertahan persepsi brand valuedari The Body shop yang lekat dengan environment, philantropis, against animal testing de el el...kok rasanya susah bgt deh "spirit of Anita Roddick" bisa di copy oleh L'oreal yg terlanjur corporate banget...sama susahnya ngebayangin Virgin tanpa Branson..atau Ayam Suharti tanpa suharti ? lho :P

Any comments ?

Pasar Becek



Tuesday, September 11, 2007

Becomes A Creative Marketer

Tantangan pasar menuntut marketer yang tidak cuma mengikuti cara-cara berlogika dan sistematik berdasarkan konsep marketing yang ada, melainkan mereka yang siap menciptakan ide-ide yang GOKIL. Untuk menjadi marketer yang handal dan sukses, tidak bisa hanya berpikir linear saja butuh referensi yang tidak cukup diperoleh dari membaca buku. Untuk itu, seorang marketer dituntut memiliki kreativitas dalam menciptakan diferensiasi yang unik, inovatif, dan penuh terobosan tanpa batas.

Kreativitas memang menjadi kunci keberadaan CM (Creative marketer). Kreativitas yang dibangun dari sebuah habit. Artinya, mampu membuat sesuatu yang berbeda di luar kebiasaan dari industri atau perusahaan tempat dia bergelut. Seorang yang mampu melawan dari rutinitas, mencari cara baru dalam melakukan sesuatu dan berani mengambil resiko dengan tetap penuh perhitungan. Cara yang diambil tidak boleh ngawur. Harus tetap relevan dengan produknya.

Ciri seorang CM pada umumnya adalah seorang yang berani mencoba yang dapat memicu jiwa kreativitas mereka. Kreativitas yang dapat memberi bentuk baru -- efektif kepada sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya.

Langkah awal yang harus dimiliki seorang CM yakni; mampu menghayati betul bisnisnya. Tidak hanya sekadar mejalankan tugas, tapi yang bisa memberikan diferensiasi dan nilai tambah pada produknya. Hal itu memang tidak mudah. Kita tidak dapat memaksakan diri untuk berkreasi. Tapi, dapat memupuknya dengan menjadikan kreativitas sebagai budaya di perusahaan. Karena, orang-orang yang tidak kreatif memiliki peluang menjadi kreatif jika berada pada lingkungan yang mendukung adanya kreativitas.

Friday, September 7, 2007

Booming EO

Melihat tren marketing yang masih akan bertumpu pada paradigma kampanye yang soft, prospek bisnis EO (event Organizer) dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan masih akan booming. Para pemilik merek lebih memilih marketing event ketimbang advertising untuk membangun brandnya di mata publik. Mereka mengunggulkan marketing event yang mereka yakini dapat membangkitkan emosi target audience dan memberikan kesan yang lebih mendalam kepada brand, sehingga dapat menciptakan brand loyalti. Tak heran, seiring dengan boomingnya tren marketing event, industri penyedia jasa penyelenggara event tumbuh subur di Indonesia.

Perkembangan industri EO ini membawa berkah bagi peningkatan lapangan pekerjaan. Namun disisi lain, rendahnya entry barrier membuat industri ini menjadi rapuh (volatile) karena siapa saja bisa masuk, bahkan yang kompetisinya rendah sekalipun. Banyak persepsi yang mengatakan bahwa membuat EO tidak perlu modal besar, tetapi untung yang ditangguk cukup menjanjikan.

Menjamurnya perusahaan EO ini juga memicu terjadinya perang harga. Apalagi sejak akhir tahun 2006 aktivitas Below the line sudah menjadi pilihan favorit para pemilik merek. Itu sebabnya, demi memperoleh project sebuah event, tidak sedikit EO baru membanting harga. Begitu ketatnya persaingan sampai-sampai ada yang menawarkan agency fee minus 1%.

Para pelaku industri event agaknya menyadari hal ini sehingga dalam perjalanannya kemudian untuk memenangkan persaingan, banyak diantara mereka yang berusaha meng-up grade kompetensinya. Mereka mengekstensifikasi jasanya tidak sekadar menjadi eksekutor promotor melainkan menjadi konseptor event yang merangkap menjadi event management. Peningkatan kompetensi EO memang layak dilakukan mengingat persaingan juga semakin semarak oleh agensi-agensi asing yang masuk ke bisnis event activation.

Ke depan, industri Eo akan sangat besar. Malah diperkirakan dalam tiga tahun ke depan setengah dari kue iklan akan dibelanjakan ke brand activation.


About Blog

Dear All,

Terimakasih sebelumnya kepada Allah SWT karena atas ridhoNya, akhirnya saya bisa membuat blog ini. Blog yang memuat topik about marketingshare. Blog yang telah lama saya nanti-nanti kan. Ide membuat blog ini muncul karena semakin hari saya semakin
antusias untuk mengetahui, menceritakan, dan menuliskan informasi seputar marketing. Saya sudah gregetan ingin menuliskan apa yang telah diperbincangkan, dituliskan, diexplore,dan diperdebatkan para marketer maupun media selama ini.

Saya persilahkan bagi teman-teman sekalian untuk memberi komentar dari apa yang saya tuliskan. Mohon kerjasama dari pembaca sekalian ya....Sebelumnya saya ucapakan limpah terimakasih dan mohon maaf apabila ada salah kata.




salam hangat,
syania