Saat ini pemerintah dan BI sedang mendorong tumbuhnya bisnis perbankan syariah. Sudah ada banyak bank yang menawarkan berbagai produk, entah itu berupa funding (tabungan, giro, deposito, dll) maupun lending (kredit konsumen, kredit modal, dll) yang berbasis syariah. Bahkan sudah ada kartu kredit berbasis syariah ber merek Dirham yang dikeluarkan oleh Danamon Syariah.
Potensi pasar yang besar dengan jumlah penduduk mayoritas muslim merupakan daya tarik utama. Namun menariknya ternyata konsumen produk perbankan syariah bukan hanya orang muslim, namun ternyata juga masyarakat non-muslim pun memanfaatkan produk-produk syariah perbankan karena ternyata ada beberapa keuntungan produk syariah dibanding non-syariah. Bahkan salah satu bank syariah menyatakan bahwa ketika mereka membuka cabang di Menado, justru cabang tersebut mencapai BEP tercepat.
Nah, mungkin teman-teman bisa sharing ide tentang bagaimana sebaiknya strategi marketing perbankan syariah ini ? Positioning seperti apa yang sebaiknya ditawarkan ? Bagaimana promosi yang bagus buat produk-produk mereka ?
salam hangat
Andrias ekoyuono

4 comments:
Hampir setiap hari ada perkembangan tentang perkembangan syariah di kota – kota tapi sepertinya BI dan regulator masih setengah-setengah untuk membuka keran sebebas-bebasnya untuk perbankan syariah. Hal ini mungkin dikarenakan bakal terjadi kanibalisme antara perbankan syariah dan konvensional.
Sementara untuk strategi bisnis ini menurut saya tidak cukup dengan "menggembar gemborkan" isu syariah. Hal ini terlihat sebenarnya sejak akhir 90 an telah lahir bank syariah pertama di Indonesia (bank Muamalat). Apalagi didukung dengan keluarnya Fatwa MUI tentang haramnya bunga Bank Konvensional. Tapi ternyata kastemer Indonesia tidak serta merta melakukan perpindahan dana dari bank konvensionalnya. Malah (seperti yang Andrias tulis) telah tumbuh customer -customer yang nota bene dari kalangan diluar islam yang menabung bahkan berbisnis melalui bank syariah. Hal tersebut membuktikan, bahwa eksistensi perbankan syariah tidak bisa hanya terpaku pada regulasi ataupun dukungan dari regulator. Perbankan syariah harus memposisikan diri sebagai bank yang juga bisa digunakan untuk berbisnis atau dengan kata lain cukup memberikan keuntungan yang kompetitif. Apalagi dengan skimnya yang berlandaskan asas keadilan seharusnya prinsip ini bisa digunakan untuk mendukung komunikasinya. Jadi kesimpulannya :
bank konvensional tidak bisa hanya mengedepankan prinsip syariah dalam strateginya. Tapi juga harus mampu membuktikan dan mengkomunikasikan keuntungan - keuntunagan yang ditawarkan kepada customernya.
thx, hexa
Salam marketer!
Berdasarkan riset kuantitatif saya di baru-baru ini di Jakarta 2007, ternyata komitmen religius tidak berkorelasi dengan alokasi dana yang lebih besar di bank syariah. Hal ini mematahkan anggapan selama ini bahwa segmen spiritual merupakan target utama bank
syariah dari sisi funding. Syariah yang berarti Islamic laws, di mana dalam konteks bank syariah adalah muamalat di bidang ekonomi sesuai syariah Islam. Ini sebenarnya lebih tepat dilihat sebagai sistem alternatif dibanding sentiment religi. Melakukan pemasaran produk keuangan syariah menurut saya berfokus pada: Marketing objective yang berlandaskan pada growth & justice sesuai hukum Islam. Segmentasi yang tidak memandang agama sebagai pemilah utama. Pemasaran sesuai syariah tidak tergantung apakah calon konsumennya muslim atau bukan. Targeting yang sesuai expertise dan alokasi sumber daya yang tidak membuat kemubaziran. Positioning sebagai lembaga atau usaha yang berlandaskan syariah dan menjual produk/jasa yang juga sesuai syariah, bukan usaha yang menjual produk dan jasa syariah, tapi prinsip menjalankan bisnisnya sendiri tidak sesuai syariah.
Salah kaprah yang terjadi menurut saya, pertama adalah selalu mengawali pembahasan pemasaran syariah dengan potensi pasar muslim yang besar. Bagi pemasar muslim, silakan tanya diri sendiri, apakah bila di suatu tempat konsumen muslim-nya minoritas atau malah tidak ada sama sekali, lantas pemasaran sesuai syariah tidak dapat dijalankan? Padahal muamalat dalam Islam bersifat universal dan bervisi pada semangat rahmatan
lil alamin. Menjalankan pemasaran sesuai syariah tidak tergantung pada target marketnya muslim atau bukan, tapi produk, akad dan sistem bisnisnya sesuai syariah.
Salah kaprah kedua adalah mempersepsikan pemasaran syariah hanya pada dataran etika, misalnya menjual dengan jujur saja. Padahal syariah dan etika sumber hukumnya berbeda. Syariah mencakup sistem bisnis, produk dan akad yang merefer pada Al Qur'an, Hadits dan sumber hukum Islam lainnya (misal Ijtihad), bukan norma etika yang bisa berlainan antar kelompok masyarakat.
Terimakasih. Wassalam.
Godo Tj
Alumnus cum laude
Program S2 Pemasaran & Keuangan Syariah
Universitas Indonesia
Sepertinya untuk ke depan syariah bakalan lebih maju...karena seperti di beritakan di bisnis.com bahwa target pertumbuhan syariah di jatim tumbuh 1,8 %...ternyata realnya bisa hampir 5 %...ini membuktikan bahwa masyarakat sudah mulai melek akan perbankan dengan system syariah....dari mulai pembiayaan.. .bagi hasil maupun investasi
berbasis syariah yang sudah dilakukan BNI untuk launching perdana di Januari 2007 sampai April 2007 sudah tumbuh hampir 400 %...luar biasa bukan? skrg tergantung masyarakatnya. .kalo sudah ada bukti-bukti realnya..pasti akan adlibs dari mulut ke mulut...secara gak sadar sudah meng advertise perbankan syariah ke orang lain...saya rasa itu yg menjadi menarik....
regard's
Fajar
Financial Planner
Post a Comment