Melihat tren marketing yang masih akan bertumpu pada paradigma kampanye yang soft, prospek bisnis EO (event Organizer) dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan masih akan
booming. Para pemilik merek lebih memilih marketing event ketimbang advertising untuk membangun
brandnya di mata publik. Mereka mengunggulkan
marketing event yang mereka yakini dapat membangkitkan emosi target audience dan memberikan kesan yang lebih mendalam kepada brand, sehingga dapat menciptakan
brand loyalti. Tak heran, seiring dengan boomingnya tren marketing event, industri penyedia jasa penyelenggara event tumbuh subur di Indonesia.
Perkembangan industri EO ini membawa berkah bagi peningkatan lapangan pekerjaan. Namun disisi lain, rendahnya
entry barrier membuat industri ini menjadi rapuh (volatile) karena siapa saja bisa masuk, bahkan yang kompetisinya rendah sekalipun. Banyak persepsi yang mengatakan bahwa membuat EO tidak perlu modal besar, tetapi untung yang ditangguk cukup menjanjikan.
Menjamurnya perusahaan EO ini juga memicu terjadinya perang harga. Apalagi sejak akhir tahun 2006 aktivitas
Below the line sudah menjadi pilihan favorit para pemilik merek. Itu sebabnya, demi memperoleh project sebuah event, tidak sedikit EO baru membanting harga. Begitu ketatnya persaingan sampai-sampai ada yang menawarkan
agency fee minus 1%.
Para pelaku industri event agaknya menyadari hal ini sehingga dalam perjalanannya kemudian untuk memenangkan persaingan, banyak diantara mereka yang berusaha meng-up grade kompetensinya. Mereka mengekstensifikasi jasanya tidak sekadar menjadi eksekutor promotor melainkan menjadi konseptor event yang merangkap menjadi event management. Peningkatan kompetensi EO memang layak dilakukan mengingat persaingan juga semakin semarak oleh agensi-agensi asing yang masuk ke bisnis
event activation.
Ke depan, industri Eo akan sangat besar. Malah diperkirakan dalam tiga tahun ke depan setengah dari kue iklan akan dibelanjakan ke
brand activation.