Salam Marketer
Suka tidak suka, inilah kecerdikan pemasaran Malaysia. Ini informasi yang saya ambil dari detik.com. Mungkin banyak yang akan berkomentar kontra terhadap apa yang dilakukan Malaysia, untuk itu, please diskusi hanya difokuskan pada aspek pemasaran, bukan aspek "nasionalisme".
berikut saya copy-kan beberapa rasa sayang di youtube termasuk tamil version :(
http://www.youtube. com/watch? v=_J-WPdBSS6c
http://www.youtube. com/watch? v=vWjyt1BLdrk
http://www.youtube. com/watch? v=3ULa5Zc1zhE
http://www.youtube. com/watch? v=DMau0idv3d4
sebenarnya Singapore juga sempat "mengutilisasi" lagu ini seperti yang dinyanyikan oleh Dick Lee
http://www.youtube. com/watch? v=JHyEKDB910w
Jadi Lagu Malaysia, Lagu 'Rasa Sayang Sayange' Heboh
Arifin Asydhad - detikcom
Jakarta - Anda pasti hafal atau setidaknya pernah mendengar lagu 'Rasa Sayang Sayange' kan? Selama ini bangsa Indonesia mengenalnya sebagai lagu daerah dari ulawesi/Maluku. Namun, saat ini lagu terkenal ini jadi lagu iklan pariwisata Malaysia. Dengan dijadikannya lagu ini sebagai sound track iklan pariwisata di Malaysia, maka diskusi mengenai lagu ini pun menjadi heboh. Apalagi, sudah banyak orang yang melihat iklan pariwisata ini diiklankan di televisi-televisi Malaysia. Orang Indonesia pun langsung teringat, "Lho.. lagu ini kan lagu Indonesia?" Heboh lagu 'Rasa Sayang Sayange' ini juga menjadi bahan diskusi menarik di DetikForum. Banyak juga informasi yang berkembang di arena diskusi secara online tersebut.
Siapa sebenarnya yang menciptakan lagu ini pertama kali? Apakah memang orang Malaysia ataukah orang Maluku? Jiplak- menjiplak lagu seperti ini sudah sering terjadi. Namun, agar masyarakat tidak bingung, tentu pemerintah Indonesia atau lembaga berkompeten sebaiknya menelusurinya.
Anda bisa menyimak iklan pariwisata Malaysia yang menggunakan lagu 'Rasa Sayang Sayange' ini di http://www.youtube. com/watch? v=_J- WPdBSS6c atau di website resmi pariwisata Malaysia: http://www.rasasaya ng.com.my/ index.cfm.
Memang lirik lagu ini tidak sama dengan lagu Rasa Sayang Sayange yang beredar di Indonesia. Bahkan, ada tambahan lirik dalam bahasa Inggris, Mandarin, dan India. Lirik dalam banyak bahasa ini memperlihatkan keragaman suku atau asal di Malaysia. Namun, nada yang digunakan iklan pariwisata Malaysia ini sama.
"Tapi, ini adalah lagu Indonesia. Tidak ada bahasa Melayu pakai akhiran 'e' (Rasa Sayang Sayange)," komentar salah peserta diskusi. Intinya, peserta diskusi di detikForum mempertanyakan mengapa lagu Maluku itu dipakai iklan Malaysia.
Kalau diperhatikan lebih jauh, ternyata lirik lagu yang digunakan Malaysia itu tidak menggunakan kalimat 'Rasa Sayang Sayange'. Tapi, Malaysia menggunakan lirik 'Rasa Sayang Sayang Hey...'.
Anda memiliki informasi penting mengenai lagu ini? Silakan bergabung dengan para peserta lainnya di DetikForum atau kirimkan informasi Anda ke email: redaksi@staff. detik.com. (asy/asy)
Sumarketer
3 comments:
Dear all,
Kalau memang mau dilihat secara marketing, apakah Malaysia sudah melakukannya sesuai dengan kaidah marketing yang benar? Misal: bagaimana dengan hak cipta. Setau saya ada peraturan internasional mengenai kekayaan intelektual milik bangsa (ingat kasus batik, tempe, kopi dst). Mestinya Dirjen HAM c.q. HKI mengecek hal ini. Soalnya berabe kalau nanti iklan dari Timbuktu pakai lagu kebangsaan Indonesia untuk iklanin
kolor mereka. Marketing yang benar tidak seperti ini (kooptasi).
Betul, di dalam iklan (marketing) kita bisa pakai karya siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Tapi jangan lupa, legalkah? Apalagi ini jelas iklan kebangsaan (pariwisata) Malaysia--yang memang Tagline-nya melulu bicara: kami melayu asli. Secara implisit, sebenarnya sudah mengklaim Nusantara adalah bagian dari Malaysia yang melayu asli.
Jikalau tidak ada copyright, iklan tsb layak di-sue apalagi sampai mengubah syair "rasa sayang sayange" menjadi "rasa sayang sayang hey!" tanpa seijin si-empunya.
Salam,
Maya
Yap. setuju, rasanya ini kecerdikan Malaysia dalam memanfaatkan unsur kultural yang sudah ada. Dan memang nggak akan habis kalau kita bicara etis ataupun tidak etis; kecuali kita punya sikap tegas. Satu-satunya jalan, ya pemerintah mesti punya kecerdikan yang sama....kalo mampu lho.....
Salam,
Silih
Hai Marketers!
Saya melihat ini dan memberikan komentar "Execelent!" , hem...??? Kita nya aja yang gak mampu mempertahankan. Saya pikir masih banyak hasil karya tangan anak Bangsa yang dilabel dan dikemas lagi dengan predikat "made in Singapore... .made in Malaysia... dan bla...bla... bla" padahal kita semua juga tahu buatan dari mana... (perlu di data kali yah!)
Dari situasi ini, saya teringat bagaimana produk-produk lainnya dipasaran yang akhirnya hilang dan tenggelam karena "kalah cerdik" dalam mengemas produknya. Sehingga peluang ini dapat dimanfaatkan "creators" lainnya dan memenangkan kompetisi.
Kembali ke "Rasa Sayang e"... betul memang ini kejelian dan kecerdikan mereka dalam memanfaatkan lagu tersebut sebagai Campaign Song.
Salam Marketers
"CaKaR"
Post a Comment